Wisuda, Sarjana, dan Tekanan Batin #OpiniLaode

Apapun yang kita lakukan di dunia ini kita akan didampingi oleh pertanyaan di sekitar kita entah itu datangnya dari kita sendiri ataupun orang lain.

Pertanyaan standar dalam hidup; ketemu teman, ditanya "Raim pacarnya mana?" "belum ada pacar?". Sudah ada pacar; ditanya: "kapan menikah?" Sudah menikah ditanya: "kapan punya anak?". Anak lahir ditanya: "kapan anak kedua?". Anak kedua lahir, kapan? kapan? Begitu terus sampai kiamat.

Dan gilanya bahkan pertanyaan itu sudah muncul sebelum kita bisa mencerna pertanyaan itu sendiri. Sewaktu kita kecil masih jadi bayi: "kapan bisa jalan?" Ya, meskipun itu pertanyaan ke orang tua kita tapi tujuannya ke kita juga.

Sebagai mahasiswa (yang nyaris abadi). Jika dipikir-pikir pertanyaan yang paling menjengkelkan dari fase hidup kita itu adalah pertanyaan "Kapan wisuda?" Ya Allah kenapa pertanyaan itu ada di muka bumi ini. Dan yang menjengkelkan pertanyaan itu selalu dibarengi dengan pertanyaan sambungan: "Sudah semester berapa?". Arghhh...zzz...zzz...



Aari pernyataan diatas timbul teori secara tidak langsung, dimana jawaban mahasiswa dari pertanyaan di atas akan dipengaruhi oleh seberapa banyak nominal semester mahasiswa tersebut. Semakin banyak akan semakin sungkan menjawab.

Masih Semester 4
"Raim kapan wisuda?"
"Ah belum sampe juga kak, baru semester empat perjalanan masih panjang..."

Semester 6
"Kapan wisuda, Im?"
"Masih beberapa semester lagi om, saya masih semester 6... Doakan ya..."

Semester 10
"Kapan wisuda, Im?"
"Hobi saya main bola, om"
"Emang kamu suda semester berapa im?"
"Siapa lagi anak om yang kedua?"
"mmm...mmm...mmm"

Semakin banyak semester semakin ngawur. Sekarang semester saya sudah lebih dari 8, standar orang kuliah pada umum intinya sudah dua dijit. Dan semakin kesini semakin saya rasa perhatian mama saya sudah mengalami perubahan.

Kemarin waktu semester saya masih dibawah delapan. Pagi siang malam mama saya telpon tanya kabar "Sudah makan?" "Sudah mandi?" "Jangan lupa minum!" Pokoknya perhatian sekali mama saya. Sekarang semakin kesini semester sudah banyak, kalau dia menelepon pagi siang malam: "Raim skripsi apakabar?"  

Yang lebih parahnya adalah kita biasa dibanding-bandingkan dengan tetangga yang karir kuliahnya lebih cepat dari pada kita.
"Halo, Im.. Kamu tau La Daud belakang rumah kita teman sekolahmu dulu?"
"Iya, kenapa ma?"
"Ini mamanya sudah tidak ada dirumah.."
"Astaga, ma.. Kenapa? Dia sudah meninggal, ditabrak, dirampok apa bagaimana?"
"Bukan.. tapi mamanya ini sudah tidak ada di rumah. Baru saja pergi ke Kendari, anaknya wisuda"
"Astaga, ma..."
"Masa kamu kalah sama La Daud yang tidak bisa baca!"

Hmm tidak bisa baca, kenapa kuliah ya? Mama saya memang menyebalkan. Dibanding-bandingkan itu sakit, tah!!  Sakitnya itu sama kaya kita abis putus, besoknya kita lihat mantan jalan dengan cowok barunya yang lebih hitam dari pada kita!
****

Ini yang membuat saya berpikir bahwa sebenarnya kuliah ini bukan untuk kita, tapi untuk orang tua kita. Mungkin pikiran meraka tingkat kesuksesan adalah berhasil membiayai pendidikan anak-anaknya.

Lagian juga kalau dipikir pikir kuliah, sarjana sebenarnya bukan penentu profesi kita melainkan kuliah adalah gambaran tentang sebagian masa depan kita. Mari kita lihat teman-teman saya yang suda wisuda cepat-cepat apa yang mereka lakukan sekarang? Ada yang jaga warnet, ada yang jadi guru honorer, ada yang di Pemerintahan. Bisa jadi berbeda dengan ilmu yang mereka dapatkan waktu kuliah dulu.

Jadi menurut saya, intinya adalah bukan masalah kita kuliah cepat-cepat tapi bagaimana kita memaksimalkan ilmu yang kita dapat. Walaupun demikian juga saya iri dengan teman-teman saya yang sudah wisuda walaupun ada yang "cuma" jaga warnet, karena setidaknya dia sudah mewujudkan cita-cita orang tuanya.

Namun, tetap ada agak kesal juga dengan teman-teman saya di kampus yang setelah wisuda, apload foto-foto baju pake toga di sosmed dan sombong minta ampun. Saya sebenarnya tidak apa-apa. tapi tidak usah add sosmed saya juga. Saya kan jadi lihat, kalau mama saya stalking saya pasti dia lihat juga teman-teman saya pakai toga dan dia pasti membandingkan lagi dengan saya.

Untuk kalian mahasiswa lama, teman-teman saya di kampus yang suda jadi legenda; jangan terlalu bangga juga dengan status kita ini kecuali kita punya alasan yang tepat untuk memperlama kuliah ini. Seperti saya lama, karena bapak saya baru saja meninggal, dan jika saya kuliah saya tidak akan bekerja. Kalau saya tidak bekerja siapa yang akan membiayai pendidikan adik-adik. Jadi setidaknya saya punya alasan untuk memperlama. Toh banyak teman-teman saya tujuan hidupnya belum jelas. Kuliah lama hanya karena mau ikut ospek mahasiswa baru atau kuliah lama hanya mau jadi legenda yang disembah mahasiswa semester satu.

Pesan saya untuk mahasiswa baru yang merasa ditindas oleh teman-teman saya yang sudah jadi legenda; Jangan takut! Kenapa? Karena, kami mahasiswa lama ini teman kami di kampus tinggal sedikit, tinggal beberapa orang. bisa dihitung dengan jari manis. Jadi kenapa harus takut? Kan jumlah kalian jauh lebih banyak dari pada kami. Hanya masalahnya, bisa tidak kalian bersatu?  Itu!

makanya bersatu. pei!
****

Bapak saya memang sudah meninggal, tapi dia berhasil mewariskan ilmu pengetahuan dan kecerdasan yang dia punya. Hikmahnya juga bapak meningal sebelum saya wisuda, ada karena saya pasti cumlaude kalau wisuda. Kemarin, saya baca berita ada anak tukang becak, cumlaude dan pas wisuda bapaknya mengantar ke kempus dengan becaknya. Ini sungguh mengharukan. Nah, Bapak saya tukang kayu, kalau saya wisuda diantar pake apa?, Masa pake mesin kayu? Baru dua meter jalan mesin mati. Kabelnya tidak cukup panjang. Hehehe..

Terakhir, intinya adalah bukan masalah cepat atau tidak kita wisuda, tapi lebih cepat juga lebih baik. Karena hebatpun kadang bukan ditentukan dia kuliah diamana, jurusan apa, bahkan kuliah atau tidak. Megawati pernah DO dan jadi presiden. Ibu Susi Pudjiastuti hanya lulusan SMP, tapi jadi Menteri. Bahkan Sultan hasanudin, Haluoleo, Pattimura malah sama sekali tidak kuliah tapi namanya dijadikan nama kampus. Hahahaha..

Sayangnya,  orang yang seperti diatas sedikit dan saya mau jadi yang sedikit itu :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chord guitar Lagu Suasana Rumah Raim Laode

Setelah CEMBURU, Raim Laode Cerita Lagu Kedua SUASANA RUMAH Rilis 21 Maret 2019

Lirik LAGU SUASANA RUMAH BY RAIM LAODE