Wednesday, June 28, 2017

difollow Mentri Perhubungan RI #CatatanHarianLaode

raimlaode
Hay sahabat pembaca blog saya. sebelum melangkah membaca dan membaca. saya mau bilang terimakasih sebelumnnya sudah sempatkan untuk baca beberapa catatan saya ini. senang rasanya ngeblog lagi karna saya tau pembaca saya diblog jauh lebih sedikit dari facebook,  twiter dan sosmed lainnya. jadi saya percaya kamu yang baca ini adalah orang-orang pilihan. I love you

Aplikasi moovit
Ayo lanjud.

Kemarin saya dan tim Kamadig punya kesempatan untuk hadir diacara sosialisasi aplikasi baru bernama Moovit. untuk kamu yang belum tahu moovit itu seperti apa, dia adalah aplikasi yang berbasis trasnportasi umum. jadi sama kaya google maps tapi kamu bisa dikasi tahu ada berapa banyak jumblah angkutan yang diperlukan pada tujuan tertentu.
mentri perhubungan menerangkan aplikasi 
 Pertama-tama saya dan tim Kamadig menunggu pak mentri di Venue, berada di stasiun Palmerah. dimana kita bisa lihat beberapa wartawan dari media cetak, media online, dan beberapa tv Nasional.

dalam perjalanan diserbu wartawan
Ketika pak mentri datang dengan beberapa anggotanya langsung wartawan menyerbu informasi seperti biasanya. demi tuhan ini pertama kali saya lihat didepan mata saya wartawan seperti haus informasi. setelah itu kita berada dalam acara sosialisasi aplikasi Moovit.

Pertama-tama kita mendengarkan penjelasan dari orang-orang Moovit, mereka sangat bersemangat dalam hal ini, tahu apa yang dilakukan dengan aplikasi ini dan bisa diterapkan di Indonesia.

Ada banyak poin yang bisa kita dapatkan dari Moovit ini. bahwa kita adalah salah satu dari 70 sekian negara di dunia yang suda menerapkan aplikasi ini. dimana Indonesia adalah negara ke 60 sekian, maaf jumblah tepatnya saya kurang tahu.

moovit adalah aplikasi yang sangat ramah untuk kita orang-orang pendatang dikota besar, suda diterapkan kebeberapa kota besar di Indonesia. Solo, Jogjakarta, surabaya, bandung dan Jakarta. jadi kalau mau kemana-mana kita tinggal tahu rute jalan menggunakan Moovit.

Yang membedakan Moovit dengan aplikasi Maps yang lain adalah Moovit memberikan kita alternatif angkutan umum yang bisa kita lakukan pada tujuan tertentu. misal dari jakarta batar ke Monas, aplikasi ini akan mengarahkan saya harus jalan kaki ke halte berapa menit, dari halte busway berapa lama saya menunggu, didalam bus kita akan dikasi tahu berapa lama kita tiba, dan setelah tiba angukatan apa yang harus kita gunakan.

Kurang lebih seperti itu. sisanya Googling jangan seperti orang miskin :) piss

Raim Laode dan bang Fajar

Raim Laode naik kereta
Sementara presentasi pak mentri panggil saya kedepan, mengenalkan ke Audiens bahwa hari ini saya dan Raim akan mencoba menggunakan Moovit menuju tempat kerja beliau. dan inilah kita ayo lets go.

Rute pertama yang kita lakukan adalah naik kereta KRL, dari stasiun palmerah menuju Tanah abang. dan btw karna banyak wartawan saya terpisah dengan pak mentri, akhirnya saya berdi sendiri dibelakang para media bersama bang fajar.

Setelah sampai di stasiun tanah abang. pak mentri dan rombongan turun dan melanjudkan perjalanan menggunakan kopaja. baru siap-siap naik asisten pak mentri mencari-cari saya. "raim mana" ternyata pak mentri dari tadi cari-cari saya. yasudah naiklah saya dikopaja bersampingan dengan pak mentri.


Kalau tidak percaya. saya sampe masuk dibeberapa berita online salah satunya Detik.com

Lanjud dikopaja, saya dan pak mentri ala menjadi penumpang pada umumnya tapi didepan wartawan. kita lihat didepan kami ada banyak kamera dari berbagai media. dan ada juga dari kamera teman saya Dzikri Haqiqi kameramen andalan gue, dia juga editor youtube Raim Laode.

****
Setalah dari kopaja. kita melanjudkan perjalanan menggunakan trans Jakarta.

Didalan transjakarta saya berseblahan dengan pak mentri, didepan kami ada kepala transjakarta, dibelakang saya ada pak Bambang, kepala BPTJ (Badan Pengelolah Transportasi Jabodetabek)

Didalam Trans Transjakarta (TJ) saya dijelaskan oleh kepalanya sendiri tentang perkembangan dan eksistensi Transjakarta dijabodetabek ini. info menarik yang saya dapat adalah ternyata harga perorangan tiga ribu lima ratus adalah harga TJ dari tahun 2004 sampai sekarang.

Dan jumblah armadanya semakin tahun ketahun ditambah, sekarang ditahun ini sekitar 7000an armada TJ dengan jalur yang semakin hari diperluas dan diperbanyak. menarik pada titik-titik tertentu arsitektur TJ serupa bus-bus jakarta tahun 70an yang katanya ingin mengingatkan kita kepada kejayaan transportasi umum dalam sejarah Jakarta.

Btw semua armada TJ dilengkapi dengan CCTV depan tengah belakang, jadi kasian saya kehilangan mata pencaharian, hehe..

bapak yg didepan ini kepala TJ, samping kanan saya Pak Mentri, belakang saya Kepala BPTJ
Menarik, didalam TJ saya pak mentri kadang melakukan obrolan yang tidak ada hubungannya dengan transportasi, seperti pak mentri tanya tentang kuliah, karir, dan percintaan saya sungguh menarik dan hangat. btw pak mentri sudah pernah ke Wakatobi ketemu pak bupati saya.

Sampai saya punya kesempatan untuk menayakan hal-hal yang aneh pula. seperti Uang Laki-laki yang notabennya pak mentri Budi karya tidak tahu apa-apa. disitulah saya menjelaskan kebeliau bahwa "Uang Laki-laki" adalah dana-dana yang masuk kerekening kita tanpa sepengetahuan istri kita.

Sontak pak Budi dan yang lain tertawa bisa dilihat dari Foto diatas tanpa sandiwara. adalah kepuasan saya bisa buat mentri tertawa. asekkkkk

lagi curhat masalah keluarga

serbuan pak wartawan kepada pak menhub
Sesampainya kita di depan kantor beliau dijalan merdeka dekat monas, seperti biasa pak mentri di buru wartawan lagi. hahaha ini mentri apa artis. kasian dia.

Jadi saya dan tim memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke kantor beliau untuk mengambil beberapa shoot gambar diruangan kerja beliau.

Beberapa dokumentasi tim saya. silahkan lihat

tim Kamadig anak bujang

tim Kamadigital bersama Pak Budy karya dan pak Bambang
Setelah itu kita ambil shoot terakhir dan akhirnya tim bisa berfoto dengan beliau bersama pak Bambang juga. hehe

Setelah lelah sana-sini menemasi pak mentri keliling jakarta. berangkat dari stasiun palmerah meneju kantor beliau kementrian perhubungan dijalan merdeka dekat monas menggunakan beberapa moda transportasi dari KRL, kopaja, Transjakarta tiba-tiba raim dapat hadiah dari bapak mentri perhubungan.

Yes di Follow sama bapak, di akun istagram beliau. bukan saya diFolbek ya, saya difollow hahah.


Akhirnya pak mentri saya Followback. seaang Raim bisa ketemu dengan salah satu orang hebat dan penting di Negeri ini bisa belajar langsung dengan orangnnya tidak harus membaca dan mendengar cerita dari orang lain.

Salah satu yang saya dapat dari beliau adalah, kalau mau tahu keadaan tentang apa yang kamu kerjakan sebagai atasan kadang melihat langsung dan turun dilapangan adalah jawaban terbaik dibanding mendengar langsung dari laporan bawahan yang bisa saja dikarang-karang.

Yes, akhirnya kita berada pada pengunjung baca. terimakasi sudah luangkan waktu untuk membaca, jangan lupa sematkan dan abadikan pendapat tanggapan anda dalam komentar.

See you :)




Friday, June 23, 2017

Wisuda, Sarjana, dan Tekanan Batin #OpiniLaode

raimlaode
Apapun yang kita lakukan di dunia ini kita akan didampingi oleh pertanyaan di sekitar kita entah itu datangnya dari kita sendiri ataupun orang lain.

Pertanyaan standar dalam hidup; ketemu teman, ditanya "Raim pacarnya mana?" "belum ada pacar?". Sudah ada pacar; ditanya: "kapan menikah?" Sudah menikah ditanya: "kapan punya anak?". Anak lahir ditanya: "kapan anak kedua?". Anak kedua lahir, kapan? kapan? Begitu terus sampai kiamat.

Dan gilanya bahkan pertanyaan itu sudah muncul sebelum kita bisa mencerna pertanyaan itu sendiri. Sewaktu kita kecil masih jadi bayi: "kapan bisa jalan?" Ya, meskipun itu pertanyaan ke orang tua kita tapi tujuannya ke kita juga.

Sebagai mahasiswa (yang nyaris abadi). Jika dipikir-pikir pertanyaan yang paling menjengkelkan dari fase hidup kita itu adalah pertanyaan "Kapan wisuda?" Ya Allah kenapa pertanyaan itu ada di muka bumi ini. Dan yang menjengkelkan pertanyaan itu selalu dibarengi dengan pertanyaan sambungan: "Sudah semester berapa?". Arghhh...zzz...zzz...



Aari pernyataan diatas timbul teori secara tidak langsung, dimana jawaban mahasiswa dari pertanyaan di atas akan dipengaruhi oleh seberapa banyak nominal semester mahasiswa tersebut. Semakin banyak akan semakin sungkan menjawab.

Masih Semester 4
"Raim kapan wisuda?"
"Ah belum sampe juga kak, baru semester empat perjalanan masih panjang..."

Semester 6
"Kapan wisuda, Im?"
"Masih beberapa semester lagi om, saya masih semester 6... Doakan ya..."

Semester 10
"Kapan wisuda, Im?"
"Hobi saya main bola, om"
"Emang kamu suda semester berapa im?"
"Siapa lagi anak om yang kedua?"
"mmm...mmm...mmm"

Semakin banyak semester semakin ngawur. Sekarang semester saya sudah lebih dari 8, standar orang kuliah pada umum intinya sudah dua dijit. Dan semakin kesini semakin saya rasa perhatian mama saya sudah mengalami perubahan.

Kemarin waktu semester saya masih dibawah delapan. Pagi siang malam mama saya telpon tanya kabar "Sudah makan?" "Sudah mandi?" "Jangan lupa minum!" Pokoknya perhatian sekali mama saya. Sekarang semakin kesini semester sudah banyak, kalau dia menelepon pagi siang malam: "Raim skripsi apakabar?"  

Yang lebih parahnya adalah kita biasa dibanding-bandingkan dengan tetangga yang karir kuliahnya lebih cepat dari pada kita.
"Halo, Im.. Kamu tau La Daud belakang rumah kita teman sekolahmu dulu?"
"Iya, kenapa ma?"
"Ini mamanya sudah tidak ada dirumah.."
"Astaga, ma.. Kenapa? Dia sudah meninggal, ditabrak, dirampok apa bagaimana?"
"Bukan.. tapi mamanya ini sudah tidak ada di rumah. Baru saja pergi ke Kendari, anaknya wisuda"
"Astaga, ma..."
"Masa kamu kalah sama La Daud yang tidak bisa baca!"

Hmm tidak bisa baca, kenapa kuliah ya? Mama saya memang menyebalkan. Dibanding-bandingkan itu sakit, tah!!  Sakitnya itu sama kaya kita abis putus, besoknya kita lihat mantan jalan dengan cowok barunya yang lebih hitam dari pada kita!
****

Ini yang membuat saya berpikir bahwa sebenarnya kuliah ini bukan untuk kita, tapi untuk orang tua kita. Mungkin pikiran meraka tingkat kesuksesan adalah berhasil membiayai pendidikan anak-anaknya.

Lagian juga kalau dipikir pikir kuliah, sarjana sebenarnya bukan penentu profesi kita melainkan kuliah adalah gambaran tentang sebagian masa depan kita. Mari kita lihat teman-teman saya yang suda wisuda cepat-cepat apa yang mereka lakukan sekarang? Ada yang jaga warnet, ada yang jadi guru honorer, ada yang di Pemerintahan. Bisa jadi berbeda dengan ilmu yang mereka dapatkan waktu kuliah dulu.

Jadi menurut saya, intinya adalah bukan masalah kita kuliah cepat-cepat tapi bagaimana kita memaksimalkan ilmu yang kita dapat. Walaupun demikian juga saya iri dengan teman-teman saya yang sudah wisuda walaupun ada yang "cuma" jaga warnet, karena setidaknya dia sudah mewujudkan cita-cita orang tuanya.

Namun, tetap ada agak kesal juga dengan teman-teman saya di kampus yang setelah wisuda, apload foto-foto baju pake toga di sosmed dan sombong minta ampun. Saya sebenarnya tidak apa-apa. tapi tidak usah add sosmed saya juga. Saya kan jadi lihat, kalau mama saya stalking saya pasti dia lihat juga teman-teman saya pakai toga dan dia pasti membandingkan lagi dengan saya.

Untuk kalian mahasiswa lama, teman-teman saya di kampus yang suda jadi legenda; jangan terlalu bangga juga dengan status kita ini kecuali kita punya alasan yang tepat untuk memperlama kuliah ini. Seperti saya lama, karena bapak saya baru saja meninggal, dan jika saya kuliah saya tidak akan bekerja. Kalau saya tidak bekerja siapa yang akan membiayai pendidikan adik-adik. Jadi setidaknya saya punya alasan untuk memperlama. Toh banyak teman-teman saya tujuan hidupnya belum jelas. Kuliah lama hanya karena mau ikut ospek mahasiswa baru atau kuliah lama hanya mau jadi legenda yang disembah mahasiswa semester satu.

Pesan saya untuk mahasiswa baru yang merasa ditindas oleh teman-teman saya yang sudah jadi legenda; Jangan takut! Kenapa? Karena, kami mahasiswa lama ini teman kami di kampus tinggal sedikit, tinggal beberapa orang. bisa dihitung dengan jari manis. Jadi kenapa harus takut? Kan jumlah kalian jauh lebih banyak dari pada kami. Hanya masalahnya, bisa tidak kalian bersatu?  Itu!

makanya bersatu. pei!
****

Bapak saya memang sudah meninggal, tapi dia berhasil mewariskan ilmu pengetahuan dan kecerdasan yang dia punya. Hikmahnya juga bapak meningal sebelum saya wisuda, ada karena saya pasti cumlaude kalau wisuda. Kemarin, saya baca berita ada anak tukang becak, cumlaude dan pas wisuda bapaknya mengantar ke kempus dengan becaknya. Ini sungguh mengharukan. Nah, Bapak saya tukang kayu, kalau saya wisuda diantar pake apa?, Masa pake mesin kayu? Baru dua meter jalan mesin mati. Kabelnya tidak cukup panjang. Hehehe..

Terakhir, intinya adalah bukan masalah cepat atau tidak kita wisuda, tapi lebih cepat juga lebih baik. Karena hebatpun kadang bukan ditentukan dia kuliah diamana, jurusan apa, bahkan kuliah atau tidak. Megawati pernah DO dan jadi presiden. Ibu Susi Pudjiastuti hanya lulusan SMP, tapi jadi Menteri. Bahkan Sultan hasanudin, Haluoleo, Pattimura malah sama sekali tidak kuliah tapi namanya dijadikan nama kampus. Hahahaha..

Sayangnya,  orang yang seperti diatas sedikit dan saya mau jadi yang sedikit itu :)

Thursday, June 22, 2017

beberapa foto ganteng Raim Laode

raimlaode
Whatsap kembali lagi dengan saya teman kamu Raim Laode pemuda harapan bangsa. pada kesempatan kali ini saya tidak tahu mau tulis apa. jadi mendingan saya bagi beberapa foto ganteng saya saja.


Pertama-tama kenapa ini harus saya lakukan karna hampir setiap saat jika saya dimintai untuk isi acara dikesempatan tertentu biasa panitia minta foto ganteng saya entah itu dari saya atau dari menejer saya. biasa foto itu untuk kebutuha promosi.

ya karna kemari saya baru saja foto-foto menurut saya ganteng. ini dia beberapa foto ganteng saya dibulan di minggu ini.

jadi temen-teman komunitas atau Io yang mau undang saya bisa tinggal kopi dengan kualitas yang mantap.


 





Wednesday, June 21, 2017

Kajiri, Akhir Ramadhan ditahun yang Berbeda Antara Wakatobi dan Jakarta

raimlaode

Sebuah tulisan selalu ada alasan, dari mana datangnnya, kenapa harus ditulis, semua ada alasan dan kalau kamu tanya alasan tulisan ini adalah sederhana untuk keluarga saya. kerabat diwakatobi. kalian pasti tahu saya sayang kalian lebih dari saya sayang diri saya sendiri.

Hari ini adalah malam 27 Ramadhan tidahun ini 2017. saya tulis tepat diaparteman jakarta pusat.

Ada yang berbeda.

Tidak seperti ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnnya. nuansa tidak segembira tahun sebelumnnya. tapi aku tidak akan menyalahkanmu Tuhan. karna Kau kami ada dan kepadamulah kami akan kembali.


Ada yang berbeda.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnnya, Almarhum ayah masih ada saya dan kaka Boy selalu kemasjid biasa ayah juga kemasjid dimalam ini untuk ihtikaf. bukan hanya kebiasaan ini adalah sunah dari nabi, tapi adalah kebiasaan yang bapak saya selalu tekankan keanak-anaknya.

kebiasaan ini yang dinamakan "mofoto" yang artinya begadang, kebiasaan ini adalah kebiasaan yang unik adalah kebiasaan keluarga kami untuk berburu lailatul kadar adalah malam yang keutamaannya lebih dari seribu bulan.

ingat, waktu kecil bapak saya kumpulkan satu keluarga dia bilang ke adik-adik "kalian jangan tidur sebentar malam kita mofoto" sapa tau kita dapat lailatul kadar. semua anak-anak mengerti kecuali adik saya Diana. tepat jam 12 malam dia bangun bilang ke mama saya "ma kapan kita berfoto" dia kita mofoto itu berfoto. haha

Kajiri atau kajiri'a adalah istilah kami orang wakatobi untuk malam 27 ramadhan yang selalu dipercaya malam itu adalah malam lailatul kadar. biasa bunyi petasan dimana-mana menyambut malam hari itu.

Sore hari kita berjiarah ke kuburan kakek, menyalakan lilin untuk menerangi kuburan meraka. entah itu walaupun tidak diajarkan agama tapi adalah kebiasaan untuk menghargai malam itu.


Namun malam ini terasa berbeda.

Sangat sedih lilin itu akan berada pada kuburan ayah yang baru berapa hari wafat diawal ramadhan. dan yang lebih susanya saya tidak bisa hadir untuk menyalakan lilin itu. dan mengucapkan doa kepada Allah untuk meminta keluasan kuburanmu ayah.

Begitu sulit untuk menulis satu demi satu kata-kata dalam paragraf ini karna sesekali saya terhenti dengan air mata yang jatuh.

Tapi semua orang tahu. kamu pasti tahu, saya sayang ayah. namamu akan selalu ada didoa yang akan kulanturkan setiap saat. 

Ada yang berbeda.

Mama, bapak, Diana, Eli, Yusril dan kaka Boy. mama Aril, bapak Ariel, Halil, Ariel, Uki. saya sayang kalian.

Antara Wakatobi dan Jakarta. adalah doa yang akan mendekatkan kita.

Bapak entah kau tahu atau tidak, malam ini terasa berbeda, semua cerita hebat kamu hanya akan ada di benak saya. kamu pergi tidak neninggalkan harta yang banyak. tapi apa yang kamu berikan, apa yang kamu wariskan lebih dari apapun yang saya butuh.

I love you La Ode Amirudin Poko.


Copyrights @ 2019, Blogger Template Designed By Raimlaode

Distributed By Gooyaabi Templates