falsafah Merantau orang Wakatobi




TARA, TURU, TORO, DI LANGKE’A
( Falsafah Merantau Orang Wakatobi )
Oleh : La Ode Raimudin

Ara nulangke di togo numia la moane, tolu asa ako d’ikonta’u, Tara b’ara Nukalu kalu,  Turu pomundi ke miangkene’u, toro na agama’u.
–falsafah merantau orang Wakatobi

Indonesia adalah Negara maritim terbesar didunia, begitulah ungkapan yang dikatakan oleh  Ab Lapian seorang sejarawan maritim terkenal di Indonesia. Keadaan yang luarbiasa ini ratusan pulau pulau yang terbentang di Nusantara dari Sabang sampai Marauke mengakibatkan budaya pelayaran yang melakat ditelinga kita, bahakan dalam alunan cerita-ceria pengantar tidur orang tua kita.
Nenek moyangku seorang pelaut. Begitulah lirik lagu yang sering kita dengarkan dimasa-masa kecil.  Keadaan ini membuat begitu banyak budaya dan kebiasaan yang bermacam-macam dinusantara. Hal ini merupakan asset yang berharga dan bernilai tinggi serta membuat kita menjadi Negara yang kaya akan budaya karena tidak ada dinegara lain selain Indonesia.
Budaya merantau cukup akrab ditelinga kita nusantara terutama orang-orang yang tinggal di pulau-pulau Indonesia. Yang menarik dalam budaya ini adalah biasanya masing-masing daerah punya cirikhas tersendiri yang harus dilakukan sebelum merantau.
Banyak faktor yang mendorong orang-orang untuk pergi dari tempat asal atau kelahirannya menuju tempat lain. Secara umum adalah faktor ekonomi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi, faktor pendidikan dan faktor peperangan serta bencana alam. Beberapa faktor tersebut jika dilakukan berulang-ulang akan menjadi tradisi atau bidaya dari suatu kelompok etnis.
Wakatobi misalanya, budaya merantau sangat melekat kuat pada masyarakat karena pada dasarnya keadaan alam dan geografis yang memungkinkan untuk melakukan hal itu.  Di Wakatobi, merantau bisa dikatakan telah menjadi salahsatu bagian dari budaya masyarakat, alasan utama untuk merantau adalah alasan ekonomi dan alasan pendidikan yang kebih baik.
Sebelum melakukan perantauan, biasanya anak-anak muda yang ingin yang ingin merantau diberikan sebuah bekal oleh  orangtua masing-masing untuk jadi pegangan dalam perantauan. Selain bekal materi yang diberikan, bekal mental tidak lupa untuk diberikan kepada pemuda-pemuda yang hendak melakukan perantauan kenegeri orang. bekal meteri berupa dana yang cukup dan skil tertentu sedangakan bekal mental adalah salahsatunya berupa petua-petua atau falsafah merantau ini. Namanya adalah falsafah tara, turu, toro,
Tara, Turu, Toro adalah falsafah atau petua yang menjadi pedoman hidup dan harus dipegang dan dimiliki oleh orang-orang Wakatobi yang ingin merantau dinegeri orang. Biasanya falsafah ini diberikan oleh para orantua kepada anakanya yang hendak merantau kenegeri orang degan alasan tertentu pendidikan ataupun ekonomi.
Tara, turu, toro. Berasal dari bahasa lokal Wakatobi yang mempunya makna lebih dalam jika dikaji secara menyeluruh. Ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh pemuda-pemuda Wakatobi yang hendak melakukan perantauan yaitu  falsafah Tara, Turu, Toro.
Tara secara bahasa artinya Kuat atau tangguh, inilah salahsatatu komponen yang harus dimiki oleh orang-orang perantau dari Wakatobi untuk  tangguh, gigih, tidak pantang menyerah menghadapi tantangan hidup dinegeri orang ketika mencari nafkah ataupun menyelesaikan pendidikan yang lebih bagus untuk membangun daerah ketika kembali dari perantauan. Semangat ini akan menajadi salah satu bekal mental yang harus diterapkan diperantauan.
Turu dalam bahasa Indonesia artinya adalah mengalir, baik hati, sopan dan santun. Tidak cukup dengan tangguh serta kuat dalam menghadapai tantangan diperantauan, namun diperlukan juga kebaikan hati, saling menyapa dan menyayangi satusama lain untuk bisa mengwujudkan itu semua.
Toro artinya adalah lurus, dan tidak neko-neko. Selain harus kuat dan berhati baik dan ramah terhadap sesama, yang harus dimiliki ilalah kemampuan spiritual yang tinggi dalam artian tidak lupa menjalankan perintah agama yang menjadi landasan dasar dari kehidupan olehnya itu poin ini berapa pada poin terakhir.
Semangat ini, seharunya tidak boleh dilupakan oleh orang-orang wakatobi yang memempuh pendidikan diluar daerah seperti Kendari, untuk menambah motifasi terhadap cara dia menyelesaikan masalah dan pantang menyerah didalam menempuh pendidikan. Tetapi mengutamakan hati yang luhur, berbagi terhadap sesame dan tidak meninggalkan agama dan terus berada dijalur yang baik.
falsafah ini akan lebih menarik dan menjadi ingatan yang kuat jika diterapkan diterapkan dan disisipkan dalam dunia pendidikan didaerah Wakatobi seperti pendidikan praMerantau yang sebetulnya bias diterapkan satuan pendidikan seperti Sma khususnya semester akhir.


Tertarik atau ingin berkomentar
1.       085756463361
2.      Fb : Raim Karana
3.       @RaimKarana


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chord guitar Lagu Suasana Rumah Raim Laode

Setelah CEMBURU, Raim Laode Cerita Lagu Kedua SUASANA RUMAH Rilis 21 Maret 2019

Lirik LAGU SUASANA RUMAH BY RAIM LAODE